ASAP HITAM DI RUMAHKU

Lurus, kulempar pandangan kedepan. Luas membentang tanaman padi yang mulai menguning. Pohon kapas di sudut-sudut pematang sawah nampak seperti seorang penari yang berpose gemulai. Nyiur melambai daun kelapa menjadi tempat berlindung bagi para petani dari sengat matahari. Gemericik air selokan menjadi sumber irigasi. Anak-anak kecil berlarian di pematang sawah, sambil sesekali terdengar teriakan riang mereka. Demikianlah pemandangan yang senantiasa kunikmati setiap saat. Disini, di depan rumahku tampak sejuta keindahan dari bukit yang berdiri dengan kokoh. Membatasi lepas pandang mataku.
Dulu, kala aku masih kecil, sering kuhabiskan waktu disana, tempat dimana para petani itu singgah, berlarian persis anak kecil yang memekikkan keceriaan yang aku lihat hari ini. Semua tampak sama, tak banyak yang berubah.
Masa pasca panen biasanya akan menjadi surga bagi kami untuk bermain layang-layang. Bagaimana tidak? Angin dipersawahan masih kencang, pun tak ada penghalang seperti pohon, kabel, atau rumah penduduk jadi layang-layang bisa menari dengan bebas di angkasa.
Sempat terlintas dibenakku jika suatu hari nanti aku akan kehilangan tempat seindah ini akibat arus modernisasi. Kala hamparan padi disulap menjadi perumahan dan gedung-gedung industri. Pohon-pohon kapas menjelma jadi tiang-tiang penyangga sumber kehidupan manusia modern. Ialah listrik.
Tenaga listrik, yang mengantarkan air dari dalam tanah ke dalam rumah, listrik yang menyebabkan asap dapur dari kayu tergantikan oleh tenaga magic. Listrik pula yang menjadikan semilir angin pepohonan ditukar dengan kesejukan air conditioner. Belum lagi kotak ajaib yang menyuguhkan segudang hiburan dan informasi (televisi), pun menggunakan tenaga listrik. Sementara selokan, sebagai sumber irigasi akan berubah menjadi kelokan kerikil berpadu aspal, tempat kendaraan melanglang buana. Aghhh…pahit sekali.
Hingga kini, tempat ini masih menjadi surga bagiku. Tempat ini selalu menyuguhkan kesejukan kala dunia terik oleh mentari, menjanjikan kedamaian ketika orang-orang diluar sana sibuk dengan urusan duniawi, menghadirkan solusi atas segala persoalan hidup. Keberadaan tempat ini semakin mempercantik istana kecil tempat aku dan keluargaku tinggal.
Sekarang, setelah aku dewasa aku tak lagi menghabiskan waktu di sana lagi. Tapi aku masih tetap bisa menikmati keindahan bukit Buluwayang dari teras depan rumahku. Aku dan ibu yang selalu setia duduk dan mengagumi keindahan alam di depan rumah tanpa jemu. Kekagumanku pada alam berpadu dengan kekagumanku pada ibu, makhluk Tuhan paling luar biasa yang tercipta untukku dan untuk keluargaku. “Setelah bapakmu pergi, setiap pagi dan sore hari ibu selalu duduk disini, kadang ditengah lamunan ibu masih berharap bapakmu tiba-tiba pulang. Tapi ibu segera sadar kalau bapakmu memang sudah pergi untuk selamanya dan gak mungkin kembali lagi”. Tutur ibu ditengah waktu santai kami.
***
Suatu siang…
Hal yang paling aku takutkan seketika terjadi, bahkan jauh lebih parah dari yang aku bayangkan. Keindahan di depan rumahku musnah. Bukit yang kemarin masih hijau dan berdiri kokoh, kini berubah warna menjadi kuning kemerahan, menyala. Bukit itu menjadi sumber bara api yang meluap-luap dan siap melahap apapun disekitarnya. Menebarkan asap hitam pekat. Pohon kapas dan pohon kelapa di pematang sawah ternyata bukan lagi menjadi tiang listrik seperti yang aku bayangkan, tapi raib. Hilang sudah hamparan padi menguning yang siap panen, menjadi butiran abu yang berterbangan tertiaup angin.
Asap hitam pekat itu sampai pula kehalaman rumahku, dan sedikit demi sedikit mulai memasuki celeh-celah dinding rumah. Menyusup ke lubang hidung dan terus merayap menyesakkan dada. Tak tampak suatu apapun di depan mataku, gelap. Semua lenyap. Berontak hati menyaksikan ini semua, namun tak bisa berbuat apa-apa. Hanya mampu mengumpulkan sedikit demi sedikit memori dikepalaku, apa gerangan yang menyebabkan ini semua terjadi.
Aku dapati ibu ketika itu menangis sambil memeluk adikku. Di tengah isaknya suara ibu terdengar lirih membisik “kalian harus kuat, harus tetap bertahan, sebab itu hanyalah asap hitam yang berusaha untuk melemahkan kalian.” Aku mengerti maksud ibu tanpa harus berpikir mendalam.
Menyaksikan asap yang hitam pekat memenuhi rumahku, tak banyak yang bisa aku perbuat selain hanya menutupi lubang hidungku dengan tangan. Sebab tak mungkin aku mampu melenyapkan asap kecuali hanya dengan memusnahkan sumbernya yaitu api. Namun aku pikir, pertarungan ini bak semut melawan gajah. Alias lawan yang bukan tandingannya.
Aku tersungkur dihadapan ibu, sepertinya ibu paham dengan jalan pikiranku, dan sepertinya ibu membenarkan sikapku. Lambat laun api itupun mati dengan sendirinya, tanpa harus bersusah payah kami mematikannya.
Semuanya berlalu, aku tau, ibu tau, adikku tau, dan kami semua tau. Namun kami tidak sanggup untuk membahas peristiwa itu. Seolah kami semua sepakat untuk bungkam dan membiarkan semuanya berlalu.
Kejadian itu membuat keluarga kami terpuruk dan semakin tersungkur. Sulit rasanya untuk memulai semuanya dari awal, menciptakan kembali keindahan yang pernah kami nikmati. Mengembalikan keelokan yang telah musnah menjadi abu. Menyatukan kepingan-kepingan ranting yang telah hancur. Menempelkan kembali helai dedaunan yang telah lebur.
Selang beberapa hari, sesak di dada kami mulai hilang. Kami mulai membersihkan rumah kami dari serpihan-serpihan sisa pembakaran. Ibu tampak semakin kuat sekarang, setelah kejadian yang menggetarkan itu terjadi. Ternyata benar, bahwa semakin besar rintangan yang dihadapi maka akan membuat seseorang menjadi semakin kuat.
***
“Kalian ingat apa yang terjadi kemarin lusa?” ibu memulai percakapan.Pelan aku menggelengkan kepala, sambil mencoba menerka dalam hati “mungkin kebakaran maha dasyat yang terjadi di bukit dan asapnya sampai kedalam rumah” .
“Itu semua adalah ulah Pakde Noto…” lanjut ibu. Aku terkejut dengan nama yang disebutkan ibu barusan. Sebab Pakde Noto adalah orang yang paling baik pada keluarga kami setelah bapak meninggal. Bahkan dia telah menganggap si bungsu sebagai anaknya sendiri, yang ketika itu masih dalam rahim ibu waktu bapak meninggal. Dia juga yang telah membantu biaya pendidikan kami.
“Dulu bapakmu dipecat dari jabatan sekretaris desa karena dia kekeh menentang politik-politik Pakde Noto yang mulai curang menjalankan amanat rakyat. Rupanya dia mulai terjangkit oleh penyakit yang banyak diderita oleh para pejabat di negeri ini. Uang pajak rakyat dari tahun ketahun tidak pernah utuh disetorkan ke pusat, dan tidak ada pembukuan yang jelas mengenai hal itu. Bapakmu mencoba untuk mengorek-orek sisa pemerintahan periode sebelumnya yang juga dipegang oleh Pranoto. Ternyata niat mulia bapak diketahui oleh Pranoto bersama kroni-kroninya. Alhasil bapakmu dipecat dari jabatan itu, padahal kalian semua masih sangat membutuhkan biaya pendidikan.” Ibu menghela nafas panjang mengambil jeda, sambil menyeka air mata.
“Setelah kejadian itu, kesehatan bapak semakin hari kian memburuk, beban pikiran menafkahi keluarga dan menahan malu ditengah masyarakat yang terkena hasutan Noto, bapak mengalami tekanan darah tinggi yang menyebabkan komplikasi pada paru-paru dan jantungnya. Dan pada akhirnya bapakmu tidak lagi dapat bertahan, mengalah ditengah kemenangan membela kebenaran.”
Cerita ibu tadi sangat mengejutkan hati kami, betapa selama ini kami begitu santai menjalani hidup kami di kota, bersekolah dan kuliah atas jerih payah orang tua. Namun kami tidak tau apa yang sesungguhnya terjadi di rumah. Orang yang selama ini kami kagumi sebagai pemimpin namun ternyata bukan pemimpin, menguasai namun ternyata bukan penguasa. Dihormati namun ternyata tak terhormat.
Merusak keindahan keluarga kami, merampas kebahagian kami, menjajah kemerdekaan kami, mematahkan semangat kami sekaligus menyuramkan masa depan kami. Seketika aku tersadar, bahwa kebakaran mahadahsyat yang menghabiskan segala keindahan di depan rumahku hanya ada dalam lamunanku saja. Saat menyaksikan keindahan dalam keluargaku yang direnggut oleh manusia biadab macam Pranoto.
Keindahan di depan rumahku itu adalah kelurgaku. Nyala api itu adalah keserakahan orang yang berkuasa. Sedangkan asap hitam pekat adalah kesedihan yang hadir akibat bara api.Sekarang, mungkin kami serupa asap yang tak mampu berbuat apa-apa. Namun pada saatnya nanti akan kami buktikan, bahwa kami tak lagi menjadi asap yang tak berdaya.

One thought on “ASAP HITAM DI RUMAHKU

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s