cerpen

Layang-layang di Langit Senja

Oleh: Dhia Ulmilla

Plak-plak-plak…Tapak-tapak kaki mungil berkejaran, ringan mengangkat badan mereka melintasi tempat lewati penjuru. Tak peduli terik matahari membakar kulit muda tak berdosa, mereka tetap asyik dengan dunianya. Disini, di tempat ini, terdapat surga bagi sepasang sahabat. Tempat bermain dan merangkai mimpi.

Sore itu, kumandang azan terdengar sayup-sayup. Terlihat dua anak kecil tengah menyeberangi jembatan yang menghubungkan antara pematang sawah. Rok coklat bercorak bunga-bunga kecil dipadu dengan kaos lengan pendek di atas siku, gadis kecil itu tampak melenggang tanpa dosa dengan rambut kucir tinggi di belakang. Pipit, begitu ia biasa disapa. Mungkin orang tuanya berharap agar anak ini kelak akan selincah burung pipit. Diikuti oleh anak laki-laki kecil yang berjalan terseok-seok dibelakangnya.

“Abay…buruan!!!” suara cempreng anak itu memecah kesunyian. Ya, sahabat laki-lakinya ini bernama Ahmad Baiquni, sebagi panggilan sayang, Pipit memanggilnya Abay. Pipit berlarian meninggalkan Abay beberapa langkah setelah ia berhasil menyeberangi jembatan yang memang hanya cukup dilewati oleh satu orang. Abay terlihat masih berusaha berkonsentrasi menyeberangi jembatan yang terdiri dari tiga batang bambu, jika lengah sedikit saja kaki abay berpijak pada jejak yang tidak tepat, maka bisa dipastikan tubuh Abay akan terpelanting dan kecebur ke selokan.Abay menyusul Pipit berlari setelah ia sukses melewati rintangan.

Tangan mereka erat menggenggam keleng susu yang penuh dililit benang(senar), terhubung pada sebuah kerangka berbentuk segi empat yang dibalut dengan kertas. Semangat mereka semakin berkobar ketika angin yang berhembus semakin kencang, itulah tanda mereka siap bertempur. Di atas hamparan sawah yang telah selesai dipanen mereka memulai permainan. Abay terlebih dahulu memegangi layang-layang milik Pipit yang memang usianya lebih tua dari dia, jadi dengan mudahnya Pipit bisa menyuruh Abay, sementara dengan senang hati Abay melaksanakan perintah Pipit, dengan memegangi ujung layang-layang Pipit di atas kepalanya.

“Terus-terus Bay, mundur lagi mundur, yow dikit lagi,,,Huppp berhenti! Pas di situ aja, oke. Siap?” Begitulah kira-kira aba-aba yang pipit kumandangkan sebelum layanganya diterbangkan. Semantara Abay eksis dengan gaya bibirnya yang selalu memble dan tampang bloon sambil sesekali matanya berkedip-kedip cepat. Dari postur tubuh, sudah bisa ditebak bahwa Abay memang lebih muda dari Pipit, tapi nalurinya sebagai laki-laki selalu membuat Abay Tampil bak jagoan yang selalu siap menjaga Pipit dari serangan macam apapun. Walau kenyataanya Pipit yang lebih sering melindungi Abay, sebab lebih sering Abay yang menangis dan kembali pada Pipit saat kalah berebut mainan dengan anak-anak yang lain. Layang-layang pipit telah berhasil diterbangkan, kini giliran layang-layang Abay. Ia tak mau merepotkan orang lain seperti yang dilakukan Pipit padanya. Ia berusaha sendiri menerbangkan layanganya itu dengan berlari dari start. Tangan kanannya erat memegang sehelai benang, lurus, hingga bagian dadanya hampir ketarik ke belakanng. Semakin kencang berlari semakin tinggi tangan diangkatnya hingga layang-layang itu berhasil mengudara menyusul layang-layang Pipit. Keduanya menari bersama di udara seiring tangan-tangan mereka lincah memainkan benang, mengikuti arah angin yang berhembus. Sekali saja mereka lengah, maka layang-layang akan turun perlahan, bahkan tersangkut di atas pohon. Setelah dikira layang-layang mereka telah mapan meliuk-liuk di udara, mencapai titik aman dengan kadar hembusan angin yang tepat mereka duduk bersantai dibawah pohon kelapa di pinggir sawah, disana terdapat gubuk kecil yang mereka ciptakan sendiri sebagai rumah kedua.

Mata mereka tak pernah luput memandang ke atas, ke langit biru yang menjadi tujuan permainanya. Abay terlentang beralaskan batang-batang padi yang dihamparkan, pandanganya menerawang ke atas “Pit, Lihat layanganku! Sebentar lagi sampai ke langit lho…” dengan bangga Abay memamerkan layanganya yang memang dari tadi mereka tonton bersama. “Punyaku juga Bay, lihat aja nanti siapa yang sampai ke langit duluan” timpal Pipit tak mau kalah. Mereka memang selalu bersaing, keduanya tak ada yang mau mengallah, termasuk dalam mata pelajaran,dan sepertinya persaingan itu bukan hanya omong kosong Di sekolah mereka selalu memperebutkan juara satu dan juara dua. Dan tentu saja persaingan mereka adalah persaingan yang sehat, tanpa mengurangi kekompakan persahabatan mereka.

—6—

Sudah sejak kecil mereka bersahabat. Entah apa yang membumbui persahabatan mereka hingga sedapnya masih terasa sampai sekarang. Keduanya telah sama-sama menempuh ujian di SMA.

Pipit telah tumbuh menjadi gadis manis meski tak bisa lepas dari sifat tomboynya.Tak jauh berbeda, Abay juga telah berubah menjadi sosok yang baru. Tubuhnya besar tinggi, berbedadengan masa kecilnya dulu. Meski semuanya telah berubah, namun persahabatan mereka masih tetap sama seperti yang dulu, Pipit menyayangi Abay dan Abay pun menghormati Pipit. Apalagi dengan postur tubuhnya yang sekarang, Abay lebih pantas untuk melindungi Pipit, termasuk dari gangguan cowok-cowok yang mendekati Pipit. Dengan bulu matanya yang  lentik, mata bulat dan hidung mancung, ditambah lagi kepribadiannya yang menyenangkan membuat cowok-cowok yang mengenalnya ingin selalu dekat bahkan mempunyai hubungan lebih dengan Pipit. Namun sifat tomboynya seolah menjadi senjata terampuh menangkal gangguan itu, sehingga tidak sembarangan cowok berani mendekatinya.

Satu lagi yang tak berubah dari persahabatan mereka, adalah mimpi yang dulu mereka rangkai bersama. Cita-cita masa kecil yang masih mereka simpan hinggga kini. Termasuk tantangan masa kecil dulu yang mereka sebut dengan tantangan layang-layang.

—6—

Entah ada angin apa, tiba-tiba saja siang itu mereka memutuskan pergi ke rumah layang-layang, rumah masa kecil yang menjadi markas kebesaranya. Memutar kembali memori yang sudah cukup jauh tertimbun asa.

“Bay, inget gak waktu kita sering main layang-layang dulu?”

“Ingatlah…itu kan mainan favorit kita, masa aku lupa”

“Terus masih ingat apa yang sering kita katakan setiap layangan kita sudah terbang tinggi dulu?”

“Masih dong, dulukan aku sering nantangin kamu, siapa dulu yang bisa sampai ke langit duluan” Dengan bangga Abay mengulang dialog masa kecilnya, sambil menepuk-nepuk dada.

“hahahahaha…………….”

(Mereka tertawa bersama mengenang masa kanak-kanak yang sangat konyol itu)

”Tak terasa ya perjalanan kita sudah cukup jauh, andai kita layang-layang langitlah yang menjadi tujuannya…” Lanjut Pipit dengan nada serius.

“Dan langit itu adalah cita-cita kita, sekarang kita berpacu untuk dapat meraih langit kita masing-masing. Bukan lagi langit yang sama seperti waktu kecil kita dulu”  Sambung Abay sok bijak.

“Semua tergantung pada diri kita masing-masing, sebentar lagi kita tidak lagi melangkah bersama bay, tergantung kita menginginkan langit yang mana, jika langit cerah tujuan kita, maka kita harus serius dan gigih memperjuangkanya. Tapi jika sebaliknya, maka langit mendung yang kita dapat bahkan mungkin lebih hitam pekat dari malam tanpa bintang”

Kedua sahabat ini begitu serius menyongsong masa depan mereka, mengingat tak lama lagi mereka akan terpisah untuk menentukan tujuan hidup masing-masing. Tak dapat lagi melangkah bersama seperti yang selalu mereka lakukan sejak kecil. Sedikit rasa haru mewarnai perenungan mereka disiang itu, dalam gubuk kecil beratap rumbia beralaskan rumput hijau yang mulai meninggi karena tak pernah lagi terjejaki oleh mereka. Rumah kedua mereka ini telah rapuh termakan usia, bahkan sebagian pagarnya yang terbuat dari bambu telah hancur di makan rayap. Banyak yang harus mereka persiapkan sebelum benar-benar berpisah jauh, mungkin keduanya akan sama-sama pergi menuntut ilmu untuk menjemput langit mereka. Persiapan mental adalah yang paling utama.

Bukan tanpa maksud ternyata Pipit membuka pembicaraan mengenai cita-cita masa kecilnya. Sejak seminggu yang lalu, ia sudah mempersiapkan pertemuan di rumah keduanya ini, tempat dimana terekam semua kenangan-kenangan indah masa kecilnya bersama Abay, ia memang bermaksud untuk bernostalgia dan menumbuhkan kembali nafas keharmonisan persahabatan mereka yang tak pernah berubah hingga kini. Tiba-tiba saja Pipit mengeluarkan sebuah amplop besar bertuliskan namanya “Rahma Fitri Andini”. Abay sama sekali tak mengerti apa isi amplop itu.

“Apaan itu pit?” abay berusaha merebut amplop dari tangan Pipit, tapi buru-buru Pipit menghindari serangan Abay.

“Biar aku yang jelasin!” Bentak Pipit atas sikap kekanak-kanakan Abay

“iya-iya, maaf…”

“Sorry Bay, aku gak bermaksud bentak-bentak kamu, aku hanya gak mau kamu salah paham. Jadi gini, beberapa bulan yang lalu aku dipanggil ke ruang BK,di sana aku disuruh mengisi formulir pendaftaran Masuk Perguruan Tinggi jalur prestasi, jalur ini tanpa tes, jadi hanya menggunakan nilai raport dari semester satu sampai semester lima, dan ini surat panggilan bahwa aku telah diterima di Perguruan Tinggi itu, aku tinggal menyelesaikan administrasinya aja” Pipit berusaha menjelaskan sehati-hati mungkin agar Abay tidak tersinggung. Tapi ternyata salah, setelah mendengar penjelasan itu raut muka Abay langsung berubah. Ia langsung diam terpaku dengan pandangan kosong. Pipit yang sudah sangat memahami sahabatnya ini langsung mencari alternatif lain untuk meluruskan pemahaman Abay. “Abay dengerin aku dulu, bukanya aku ingin meninggalkanmu dan gak mau mengajakmu untuk sukses bersama. Aku memang sengaja tidak mengikut sertakan kamu dalam seleksi ini, bukan karena aku gak mau kamu jadi sainganku Bay. Aku hanya ingat cita-cita masa kecil kita dulu. Kamu selalu bangga dengan cita-citamu yang hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu, hanya orang yang tinggi dan bagus rupawan yang bisa menjadi pilot. Dan aku hanya ingin kamu tetap pada cita-citamu yang dulu. Apalagi melihat keadaanmu sekarang, tidak ada alasan lagi untuk kamu mengurungkan niatmu untuk dapat sampai ke langit yang sesungguhnya. Sedangkan jika aku mengikut sertakan kamu dalam seleksi ini, itu artinya kamu tidak akan pernah sampai ke langit, karena itu bukan cita-cita yang kita janjikan dulu.”

Dengan nada dewasa, Pipit mencoba merebut hati Abay kembali. “Aku tetap mendukungmu menjadi pilot, agar kelak kita bisa terbang bersama…SEMANGAT!!!!”

Kata penutup dari Pipit cukup membuat Abay tersentuh, Abay menyadari sikapnya yang salah paham terhadap sahabatnya. Kedua sahabat ini pun berpelukan, seolah kembali pada kebiasaan masa kecil dulu.

Senja hampir menjemput sang surya. Kedua sahabat ini pun terpaksa harus kembali ke rumah masing-masing. Masih dengan arah yang sama dan langkah yang sama. Namun dengan suasana hati yang berbeda, sepertinya Abay masih kepikiran dengan kata-kata Pipit yang tadi, jiwanya resah. Sedih bukan karena Pipit telah diterima di perguruan Tinggi sedangkan dia belum, tapi karena dia menyesali kebersamaan yang sebentar lagi hilang,kenyataan bahwa sebentar lagi ia akan berpisah dengan Pipit, sahabat yang sejak kecil selalu menemaninya. Pipit pun menyadari akan hal itu, diapun memaklumi sikap Abay yang lebih terlihat canggung sekarang, mungkin dia melatih dirinya sendiri agar terbiasa tanpa aku disampingnya.            Sore itu Abay memutuskan untuk melangkah sendiri dan membiarkan Pipit mengikuti jauh di belakangnya. Keduanya tampak seperti orang yang sedang bermusuhan. Santai tapi panjang, itulah langkah kaki Abay, sehingga Pipit yang berjalan dibelakangnya makin sulit untuk mengejar. Tibalah mereka pada jalan yang banyak dilalui oleh kendaraan, Abay masih tetap santai dengan langkahnya seolah tanpa beban. Semantara itu terlihat dari kejauhan pendar-pendar cahaya lampu kendaraan,silau, derunya semakin jelas terdengar ia semakin mendekat. Abay masih saja berjalan di tengah bak orang kesurupan, berjalan tanpa arah. Tanpa ba-bi-bu  otomatis kaki Pipit terangkat meraih Abay yang terus saja berjalan. Teriakan Pipit seolah tak mempengaruhi langkah Abay. Pipit berlari semakin cepat setelah tau bahwa kendaraan yang semakin mendekat itu adalah truk, dalam hitungan detik Pipitmeraih tubuh Abay dan mendorongnya ke pinggir hingga terpental sejauh 5 meter. Kekuatan yang tak terduga. Pipit sama sekali tak berpikir panjang bahwa apa yang dia lakukan itu membahayakan nyawanya sendiri. Tak tersisa sedikitpun waktu bagi Pipit sekedar menggeser tubuhnya agar tak tersentuh oleh roda, alhasil Lemah tubuh Pipit semakin hancur tertabrak dan tergilas ganasnya roda.

Senja yang datang sore itu semakin hitam legam menyaksikan tragedi dua sahabat. Pipit membuktikan pengorbananya untuk sahabat, pengorbanan nyawa yang tak akan pernah terganti oleh apapun.

Jika langit itu telah senja

bukan gelap yang aku mau

bukan pula matahari yang tenggelam kembali ke peraduanya

 Melainkankedamaian senja menyongsong terbitnya purnama

Menyambut benderang malam berhiaskan bintang-bintang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s