cerpen

MIMPI TANPA AKSI

Oleh: Dhia ulmilla

Dia tak cantik. Tak ada satupun keistimewaan yang dia miliki, dari segi fisik biasa saja, bahkan mungkin di bawah standar,putih gak, tinggi juga gak wajahpun biasa aja. Begitulah sekilas tentang cewek pemilik lesung pipit di kedua pipinya, yang membuatnya sedikit lebih manis, ditambah lagi sifat kepedean, sok kenal, dan keramahanya mungkin yang membuat dia menjadi pribadi yang menyenangkan bagi orang di sekitarnya. Mungkin karena itulah dia selalu merasa dirinya istimewa meski tak memiliki keistimawaan. Keinginanya untuk selalu mengerti hati dan mengerti prasaan orang lain, semangatnya untuk bisa merubah diri menjadi lebih baik, keyakinanya bahwa Allah selalu dekat denganya dalam kondisi apapun, serta mimpi indahnya untuk menjadi penulis di masa depan. Mungkin hanya itu yang bisa ia banggakan dari dirinya, sesuatu yang tak ada satu orangpun tau, karena memang sulit untuk diberitaukan pada orang lain. Semua yang ia banggakan tak ada bukti, dia hanya berharap suatu saat dunia akan mengakui keberadanya, meski ia tak tau bagaimana caranya?!@#$%^&*()

Dia sadar, untuk menjadi penulis profesional, ia harus rajin berlatih menulis, tapi kenyataannya berbeda, mimpi hanyalah mimpi, dia jarang sekali mengasah kemampuanya.

Sebut saja Aya, si gadis pemimpi tanpa aksi,mimpinya menjadi penulis telah membuatnya rajin menggali ilmu tentang kepenulisan, mulai dari membaca buku, browsing di internet,mengikuti seminar-seminar kepenulisan, bahkan dia tak pernah ketinggalan mengikuti talkshow penulis novel Ayat-Ayat cinta Habiburrohman el-shirazy, menurutnya dia adalah gambaran dirinya di masa depan. Beratus-ratus alamat penerbit, majalah, koran harian, dan berbagai macam tabloit ia tulis di buku harianya, berharap suatu saat nanti akan berguna ketika ia telah berhasil menciptakan karya,ya setidaknya cerpenya bisa diterbitkanlah……….Dia sadar bahwa semua upayanya ini akan sia-sia jika tanpa aksi, yaitu MENULIS.

Berawal dari kesadaranya itu,ahirnya dia mencoba untuk menuliskan setiap apa yang ia rasakan dengan goresan pena diatas lembaran putih.Mulai dari kesedihanya yang mendengar kabar bahwa ikan peliharaanya mati, ketakutanya pada binatang pliaraan ibu kost yang slalu berkeliaran memburu mangsa di dpur kostnya, kebimbanganya untuk menyelesaikan tugas makalah PKN apa Bahasa Inggris dulu? Sampai expresi kegembiraanya yang ketika itu mendapat kabar dari ketua kelas bahwa dosen PSI tidak masuk, dan expresi-expresi konyol yang gak penting lainya.

Gak penting memang, tapi menurutnya ini adalah salah satu usaha untuk dapat menggapai cita-citanya, itung-itung ngurangin beban sahabatnya yang slalu dituntut untuk mendengarkan dia berkicau tiap saat,tentang setiap kejadian dari bangun tidursampai ia menutup mata kembali. Tak jarang, sebut saja Iqbal menanggapi ocehanya itu dengan logat so’ jawa yang terbata-bata “koe iki ngomong opo? Aq ra ngerti…….” (kamu ini ngomong apa? Aku gak tahu…….), tapi ucapan sahabatnya itu hanya dianggap angin lalu saja. Meski tak sutuhnya melepaskan beban cowok tinggi berambut kriting ini, namun setidaknya hoby menulisnya ini bisa mengurangi resiko penurunan berat badan sahabatnya karena beban mental yang dia torehkan.^_^

Aya masih tetap Aya, dan iqbal masih tetap sahabat Aya walaupun dunia mereka jauh bagai langit dan bumi. Aya yang setiap perasaanya, setiap peristiwa yang dialaminya ingin diketahui oleh sahabatnya, maka setiap tulisan yang dia hasilkan slalu dia berikan pada iqbal sebagai media curhat terbaru, dan dia menuntut iqbal agar memberikan responya secara langsung stelah membaca tulisan Aya.  Jika sekali saja iqbal menolak, maka maka Aya akan berteriak layaknya anak kecil yang merengek meminta balon kepada ibunya, tak kenal tempat dan tak kenal waktu, alhasil, karena tak ingin menanggung malu,,,iqbalpun slalu menuruti keinginan Aya.

Berawal dari pengalamanya patah hati karena putus dari pacar pertamanya, Aya selalu menuliskan setiap suasana yang mapir di hatinya walaupun hanya satu kata, kadang Cuma “menangis” itulah kata yang paling sering ia tulis.

Usai mata kuliah bahasa Inggris, seperti biasa Aya ngumpul bareng teman-temanya di depan gedung pusat bahasa. Dimana ada Aya, pasti ada Iqbal. Begitulah kata teman-teman sekelas yang selalu menaruh perhatian pada persahabatan mereka. Aya yang ketika itu tengah asyik duduk melamun dengan menggerak-gerakan kakinya dengan pandangan kosong , dikagetkan oleh kehadiran Iqbal yang tiba-tiba saja muncul dengan menepuk pundaknya. Bagai anak tikus yang keinjek ekornya, itulah expresi kekagetan Aya “hiiiiiiiyyyyyyyyyyy………………………….jangkrik!!!!!!! gak ada puas-puasnya ya kamu ngerjain aku? Sekarang puas loe liat sahabatmu yang cantik nan imut ini kelabakan kaya fampir kehilangan jejak?!!!!! Huhft!@#$%^&*(). Gerutu Aya dengan segenap kemampuanya mengomel. Iqbal yang terlalu terbiasa dengan ocehan Aya, hanya membiarkan semua kalimat itu masuk kuping kanan dan keluar kuping kiri, syukur masih masuk telinga walaupun Cuma mampir, daripada mental karena kuping Iqbal yang sekarang lebih sering ditutup dengan earphone mp3 sebagai antisipasi menghindari suara Aya.

Sesaat kemudian Aya terdiam kembali dan larut dalam keasyikan lamunanya.”Heh,,,,,koe ngopo mneh??kyo sedih ngono wajahmu,,,,senyumlah…………..”^_^  celoteh Iqbal dengan gaya mengejek, “ada masalah ya Ay? Ceritalah, aku ini kan sahabatmu………” “beneran kamu masih mau dengerin ceritaku?” kata Aya. “Iyalah……..aku ga tega liat mukamu manyun terus kaya gitu, udah jelek,,jadi bertubi-tubi dech jeleknya……!!!!!” aya sudah terbiasa dengan kata-kata Iqbal yang menusuk hati.

Ahirnya Ayapun memulai ceritanya dengan satu kata “PUTUSS!!!!”( dengan penekanan tanda baca dan intonasi penuh haru) seraya melepaskan pandanganya sejauh mungkin. “Maksudmu?” tanya Iqbal sebagai tanda responya pada ucapan Aya. Aya sejenak diam kembali “rasanya pelupuk mataku ini hampir kehilangan benteng pertahananya jika aku harus menceritakan ii sekarang, semua ini terlalu menyakitkan, luka ini terlalu dalam menyayat hati, tak kusangka luka yang ku buat sendiri ternyata lebih sulit untuk aku sembuhkan Bal, maaf kawan, aku gak sanggup cerita sekarang” sambil berlalu Aya mengahiri perbincanganya dengan Iqbal, tak mau kehilangan satu momenpun dari kehidupan Aya, Iqbal mengikuti langkah sahabatnya ini dan mencoba membujuk Aya agar mau melanjutkan ceritanya.tak manjur hanya dengan kata-kata,Iqbal mengiming-imingi Aya dengan pemberian es krim coklat, karena dia tau dalam keadaan apapun sahabatnya ini gak akan pernah mampu untuk menolak pemberian dalam bentuk es krim, apalagi dari seorang Iqbal, partner gilanya selama dia kuliah. Ahirnya mereka berdua melangkahkan kakinya menuju kopma (koperasi mahasiswa) untuk membeli es krim, setelah memilih es krim coklat favorit, mereka duduk di depan kopma yang memang merupakan tempat fovorit buat sebagian orang untuk bersantai. Iqbal mulai membujuk Aya untuk kembali bercerita, Aya tersenyum dan mengucapkan terimakasih pada sahabatnya “kesedihanku telah luntur seiring dengan melelehnya es krim coklat yang ada di tanganku, aku gak boleh sedih lagi!!” teriak Aya dengan gaya kekanak-kanakanya yang khas. Iqbal tidak heran dengan tingkahlaku sahabatnya yang biasa memalukan ini, namun dia tak habis pikir dengan cepatnya perubahan raut muka yang terjadi pada Aya.  Baru aja dia terlihat begitu mengenaskan dengan ucapanya yang seolah membuat siapapun yang mendengarnya merasa ngilu di hati, aya seolah tak sanggup lagi menahan sakit yang dia alami, bahkan dia hampir meneteskan air mata, dalam beberapa menit kemudian langsung berubah menjadi tawa bak kegelapan malam yang menemukan cahayanya. “Ngapain sedih, ngapain nangiss, ngapain dipikirin,yang lalu biarlah berlalu, toh sekarang aku masih punya banyak orang yang menyayangiku, yang perhatian padaku, yang mengerti aku. Aku juga masih punya kamu, sahabat yang selalu setia menemaniku”. Dari ucapan Aya tadi Iqbal bisa menangkap sebuah isyarat “kamu habis putus sama cowoxmu yang anak Jakarta itu?” Iqbal coba memastikan “oooohh no!!!” kamu memang janius, kamu memang paling bisa ngerti aku Bal, thanks sobat, ternyata tak perlu ku habiskan banyak kata-kata untuk menjelaskanya padamu kau telah tau maksudku” Celoteh Aya lagi. “Hmmmmm gimana gak tau, aku inikan sahabatmu, aku selalu ngerti setiap perubahan pada dirimu. Setiap hari kita lewatkan bersama, tak ada satu momenpun yang terlewatkan dari kehadiranku, sampai-sampai setiap perasaan yang hinggap di hatimupun aku selalu tau,hehe…aku gitu loooh IQBAL SYAH PUTRA.” Iqbal mencoba membanggakan diri. Mereka berdua memang pasangan sahabat yang sangat serasi, keduanya sama-sama lebay…

Terik menyengat mempertemukan dua sahabat dibawah pohon beringin besar depan gedung MP (Multi Purpose). Aya mengeluarkan buku bersampul biru dan memberikanya pada Iqbal, tak perlu penjelasan, Iqbal sudah tau maksud Aya. Itu adalah buku harian Aya yang berisi semua curahan hati Aya, dengan begitu Aya tak perlu lagi menceritakan isi hatinya pada Iqbal, ini adalah ide Iqbal agar Aya mau mengasah kemampuanya untuk menulis.

Hari-hari berlalu, musimpun berganti, tak pernah lagi nampak kesedihan diwajah Aya, tak begitu banyak perubahan terjadi pada persahabatan mereka, bedanya sekarang Aya lebih sering meluangkan waktunya untuk menulis dibanding untuk ketemu Iqbal. Siang itu Aya tengah asyik dengan dunianya (menulis) di depan laborarurium agama di kampus, angin spoi-spoi mengalahkan terik sang surya. Rerumputan yang terhampar di depan mata seperti menumbuhkan inspirasi tersendiri yang menggerakan tanganya untuk melanjutkan tulisanya. Tampak gumpalan awan berkejaran mengikuti arah angin yang berembus.”Dooorrrrrr!!!!!” Iqbal datang, seketika membuat nafas Aya sejenak putus dari kerongkonganya, Brukkk!!! Iqbal menjatuhkan tubuhnya yang tierus disamping Aya. “Aya sahabatku, sudikah kau menolong diriku yang malang ini?” “Apa?!!!” tanya Aya ketus. “ Tanpa dosa banget sich, dateng-dateng tanpa permisi, ngagetin orang, minta tolong pula,huhh nyebelin!!! Hmmmm,,,dari aromanya kayaknya ada yang lagi kanker (kantong kering) nich” Ucap Aya seraya mendengus-denguskan hidungnya ke arah Iqbal. “that’s right!!! You are the real best friend ay…I love you full dech, jadi makin ngfans, hehe,,,” Kata Iqbal seraya mengekspresikan kegiranganya pada Aya yang telah mengerti maksud kedatanganya itu. “Pokoknya jangan panggil aku Aya kalo gak tau apa mau sahabatku butuhkan” nada sombong Aya sambil membusungkan dada. “ iya-iya ,,, kamu emang paling pengertian, makasih ya,,,hmmm mana duitnya? Laper nich…” rengek Iqbal pada Aya. “Nich…inget! sisanya balikin ya…” kata Aya ketus sambil mengeluarkan uang dari dompetnya.”Siapp boss!” Terima Iqbal dengan gaya tentara yang siap jalan. Iqbal ngacir menuju kantin fakultas untuk sarapan yang dirangkap dengan makan siang, ma’lumlah tanggal tua.

Usai  makan, Iqbal kembali ketempat ia bertemu Aya , di sana tampak Aya yang masih menggerakan tangan mungilnya di atas buku berwarna biru bermotif garis-garis. Tak lupa Iqbal mengaembalikan uang kembalianya pada Aya. Ternyata iqbal datang tepat pada waktunya, satu lagi tulisan Aya telah selesai dan ia langsung menyerahkanya pada Iqbal, sebelum pergi ia sempatkan untuk berpamitan dan mengingatkan pada Iqbal untuk membayar utangnya. “weh…Nenek Lampirr, pelit amat, baru dipinjemin duit bentar aja dah ditagih, mentang-mentang aku gak pernah bayar utang sama kamu,hehe…” Eitz,,, satu lagi, jaga bukuku baik-baik, jangan sampai kamu jual untuk beli makan, awass!!!” ancam Aya sambil menegepalkan tanganya di muka Iqbal. “Iya,,,bawell amat si, liat aja nanti, suatu saat kamu pasti menyesali semua kata-katamu tadi ay” “hay..jangan mimpi ye, ngapain aku nyesel???? Udah ah aku balik, Assalamualaikum”.

Udara yang sangat terik membuat Iqbal tak betah lama-lama berada di kampus, tak lamapun akhirnya dia menyusul Aya pulang ke kostnya. 15 menit iqbal telah sampai di ruangan berukuran 3×4 meter yang merupakan satu-satunya ruangan yang paling ia cintai selama hidup di kota ini,karena memang hanya kamar itu yang ia punya. Iqbal melempar tasnya seraya menjatuhkan badan yang kurus itu ke kasur, tak lupa ia menyalakan kipas angin untuk sekadar mendapat angin segar dalam ruangan yang sempit. Hampir saja Iqbal terlelap dalam tiupan angin yang berasal dari benda kecil itu, suara hp membuyarkan niatnya, Iqbal mencoba meraba-raba ke daerah sekitar tempat tidurnya namun tak juga ia dapati benda yang ia cari. Akhirnya Iqbal terpaksa harus merelakan tubuhnya untuk melenggang menuju tas yang tadi dilemparnya ke meja belajar. Di ambilnya benda itu dari dalam tas, seperti mempunyai firasat tidak baik terhadap sahabatnya ini. Ternyata Aya telpon dan menanyakan tentang bukunya “gimana bal? Dah baca bukunya? Gimana komentarmu? Baguskan? Menurutmu sikapku harus gimana bal? Aku bingung nich..ayolah bal..kasih solusi!!” Cerocoss Aya tanpa ingin tau keadaan iqbal saat ini “hemmmm..udah selese ngomongnya?” tanya iqbal dengan kesal “hih,,,kok malah balik nanya sih, kan tadi aku yang nanya duluan” “ok, sekarang giliran aku yang ngomong, boro-boro selese ay, baca aja belum hehe…” jawab Iqbal meringis tanpa dosa. “hih!!! Nyebelin…..!!!!!” spontan Aya geram dan langsung mematikan telponya. Takut nenek lampir kesayanganya marah beneran, Iqbal langsung membaca buku Aya,ia mencoba memahami setiap rangkaian hurufnya, mencoba meresapi kata demi kata, berharap ia bisa benar-benar mengerti isi hati sang penulisnya. Membaca buku Aya tak cukup membuat kantuk Iqbal sirna, ia keluar mencari udara segar sekadar untuk melebarkan mata yang hampir terpejam, tak lupa netbook kesayanganya ditenteng karena tanpa sepengetahuan Aya ternyata iqbal mengetik setiap tulisan Aya yang telah selesai ia baca.

Keesokan harinya seperti biasa Aya meminta bukunya kembali pada Iqbal, selain karena rasa rindunya pada teman tak bernyawa ini ia juga tak mau membiarkan ide-ide dan perasaan yang hinggap dikepalanya terbang begitu saja tanpa tertuliskan dalam buku itu. Namun hari itu Iqbal sengaja tak membawanya ke kampus karena ia belum selesai mengetik semua tulisan Aya, dengan berbagai alasan Iqbal mencoba menjelaskan bahwa ia benar-benar lupa tidak membawa buku Aya. “Sumpah Ay…aku lupa masukin bukumu ke tas, semalem abis baca aku langsung ketiduran jadi bener-bener lupa” jawab Iqbal sekenanya “mmmm…tumben banget kamu lupa, padahalkan selama ini segala yang berhubungan dengan aku pasti kamu utamakan dan kamu gak pernah lupa.” “Yeah… kamu kayak gak mengakui aku sebagai manusia aja, manusia itu kan tempatnya salah dan lupa. Hehe,,,” Iqbal mencoba membela diri. “Iya gak papa, yang penting jangan sampai terulang lagi. Kalau besok ketinggalan lagi aku gak segan-segan menyuruhmu balik lagi ke kost dan mengambil bukuku”. Memang kalau masalah buku, Aya bisa langsung berubah menjadi layaknya ibu tiri yang kejam. Esok harinya Iqbal kembali mengarang alasan agar Aya tidak segera meminta bukunya kembali karena memang akhir-akhir ini Iqbal tengah sibuk dengan kegiatan di luar kampus yang Aya sendiri tidak tau, padahal biasanya setiap ada sesuatu tentang Iqbal pasti tau, jangankan pergi kemana sama siapa,setiap jadwal kegiatan Iqbalpuntelah secara otomatis terekam di benak Aya, begitupun sebaliknya.

Tiga hari telah berlalu, Iqbal semakin sulit untuk ditemui dan otimatis buku Ayapun tak kunjung kembali pada pemiliknya.Entah kemana perginya pangeran  yang selalu Aya kejar-kejar itu. Bahkan kini ia semakin sulit untuk dihubungi karena hpnya jarang aktif. Perasaan curiga, kuatir dan kesal bergelora dalam diri Aya, Curiga kalau bukunya hilang, kuatir seandainya terjadi sesuatu pada Iqbal, kesal karena ia takut hanya menjadi korban kejailan Iqbal.

Aya bingung apa yang harus ia lakukan, secara selama ini dialah orang yang paling tau segala sesuatu tentang Iqbal sekarang  malah kehilangan jejak, ia bingung dari siapa ia akan mendapat info tentang Iqbal.

Hari terus berganti, masalah ini benar-benar mengganggu fikiran Aya, sekarang bukan hanya masalah buku kesayanganya yang tak kembali, tapi juga sahabatnya yang tiba-tiba saja menghilang bagai  ditelan bumi. Sekarang aya benar-benar kehilangan dua nyawa hidupnya sekaligus. Buku yang selalu setia menemaninya dan sahabat yang slalu siap sedia untuknya. Aya terus berusaha mencari info tentang keberadaan sahabatnya, Hp tak pernah lepas dari genggamanya barangkali tiba-tiba aja Iqbal menghubunginya.Aya yang tak biasa menghadapi masalah sendirian merasa sangat lemah, dalam kesendirianya ia menangis dan sadar bahwa selama ini orang yang paling berpengaruh dalam hidupnya, selalu memberi warna dalam har-harinya, selalu mengukir senyum di bibirnya adalah Iqbal.

Ditengah kegalauanya Aya teringat satu tempat yang belum ia datangi yang mungkin bisa ia dapatkan info tentang Iqbal, dalam hatinya kenapa tak ia datangi tempat itu dari kemarin. Barabgkali aja Iqbal tengah terbaring sakit di kamarnya dan tak sanggup berbuat apa-apa termasuk memberi kabar  kepada Aya, atau mungkin hpnya memang hilang, kecopetan dan bla bla bla segala pikiran negatif tentang apa yang terjadi pada Iqbal tiba-tiba saja memenuhi kepalanya. Tanpa pikir panjang lagi Aya langsung memacu motornya menuju kost Iqbal. Ini adalah kali kedua Aya mendatangi kost Iqbal setelah pertama kalinya ia datang untuk meminjambuku Iqbal dan dikenalakan pada ibu kost Iqbal  bahwa ia adalah adik perempuanya, padahal tujuany adalah untuk antisipasi agar Aya bisa sering-sering main ke kost Iqbal dengan leluasa tanpa ditegur  kalau Aya adalah pacarnya. Walaupun kenyataanya boro-boro saudara, kenal aja baru kemarin sore, secara Aya asli jawa sedangkan Iqbal jauh dari seberang pulau. Tapi tak apalah, kebohongan ini sudah terbiasa dikalangan mahasiswa.

Setibanya di kost Iqbal, Aya langsung menemui ibu kost untuk minta ijin menemui kakaknya. “Adiknya mas Iqbal ya? Sudah lama Ibu tunggu lho nduk, kok baru datang?” suara ibu kost yang ramah menyambut kedatangannya menghempaskan sejenak pikiran negatif tentang Iqbal. “oh iya bu, baru sempet maen kesini soalnya, mz Iqbalnya ada bu?” Tanpa menjawab pertanyaan Aya, ibu kost memberikan sebuah benda kecil yang terbuat dari logam, lebih tepatnya itu adalah kunci kamar Iqbal. Seribu pertanyaan kini makin berkecamuk dikepalanya “kenapa Iqbal?apa yang terjadi?mungkinkah ia ada di kamarnya?kenapa kuncinya ada di ibu? Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang sangat sulit untuk terjawab. “Masuk aja langsung” Kata ibu membuyarkan lamunanku.”iiiyyyya bu” Jawab Aya terbata. Aya menuju kamar yang paling ujungdari deretan ruangan yang mirip dengan pesantren ini, dengan hati-hati Aya membuka pintu kamar Iqbal, ada keganjilan yang ia rasakan ketika ia menyaksikan bahwa Iqbal tak ada di kamarnya tak hanya itu, Mata Aya tertuju pada sebuah benda yang bertengger di atas meja belajar, amplop berwarna coklat berukuran besar dan tebal tertinggal disana. Aya berharap benda itu bisa memberikan sedikit titik terang terhadap keberadaan Iqbal sekarang. Aya mendekati meja belajar dan mengambil amplop itu “Teruntuk sahabatku Aya” tulisan yang tertera diamplop itu nmengejutkanku. Dengan bersemangat ia membuka amplop itu ntanpa menghiraukan detakan jantungnya semakin cepat. Sebuah buku yang tlah lama ia cari, sebuah majalah, flashdisk, uang Rp 10.000,- dan tak ketinggalan kertas putih yang berisi goresan tangan Iqbal. Aya ingin segera mengobati rasa penasaranya dengan membaca surat tersebut.

“Assalamualaikum…

Salam hangat, salam persahabatan,

Langsung aja, mungkin kamu bertanya-tanya dengan benda-benda yang kamu dapati di kamarku, semua telah aku masukan kedalam amplop coklat. Pertama akan aku jelaskan tentang apa yang terjadi padaku, pagi yang cerah beberapa hari yang lalu aku mendapat kabar bahwa bapaku tengah sakit keras dan ibu menyuruhku untuk segera pulang berharap agar aku bisa meneruskan usaha bapak sebagai tulang punggung keluarga, telah kucoba menawar pada orang tuaku dengan keadaan kuliahku yang baru semester awal dan berbagai hal yang membuatku berat meninggalkan kota Jogja, tapi mereka tetap gak mau tau dan memohon dengan sangat agar aku secepatnya pulang ke kampungku. Mungkin aku tak akan kembali lagi ke kota budaya ini karena orang tuaku sangat mengharapkan agar aku bisa selalu menemani mereka di usianya yang  tak lagi muda, mungkin aku akan melanjutkan kuliah di daerah asalku. Di tanah Bangka akan ku jalani dunia pendidikanku yang baru, dunia yang tentunya menjadi amat berbeda dengan keadaanku disini, dengan persahabatan kita yang indah. Sepertinya tidak ada keputusan yang keputusan yang lebih bijak selain mengikuti keinginan orang tuaku. Begitulah singkat cerita yang membuatku tiba-taba saja menghilang tanpa pamit, karena aku tak menginginkan adanya kesedihan dan air mata saat kita berpisah, aku tak ingin membuat nenek lampirku yang selalu ceria meneteskan air mata. Kedua, aku akan menjelaskan maksud dari benda-benda yang aku tinggalkan untukmu:

 buku biru: itu adalah buku kesayanganmu dan pastinya tlah lama kamu merindukanya.

 Flashdisk: di dalam flash itu terdapat semua tulisan persis seperti yang ada di bukumu karena aku diam-diam selalu mengetik tulisanmu yang telah selesai aku baca.

Majalah: sebelumnya aku sangat mengharapkan maaf darimu karena tanpa seizinmu aku mengirimkan tulisan itu keredakturmajalah dan ternyata mendapat  respon yang baik akhirnya tulisanmu dimuat dalam salah satu rubrik  majalah itu.

Dan yang terakhir, uang Rp 10.000 yang aku sertakan untuk membayar utangku padamu.

Terima kasih untukmu, kau satu-satunya orang yang ku miliki disini ketika pertama kali ku injakkan kaki di tanah Jawa. Maaf karena aku tak bisa berpamitan langsung denganmukarena sebenarnya aku tak sanggup meninggalkanmu.

Oh iya, satu lagi mungkin kamu bertanya-tanya kenapa akhir-akhir ini Hpku sulit untuk dihubungi, Hpku telah aku jual untuk ongkos pulang ay, nanti kalau dirumah aku udah punya gantinyapasti secepatnya aku hubungi kamu.

Pesanku, kamu berbakat lanjutkan hoby menulismu, aku ingin mendengarmu sukses menjdi penulis, menerbitkan banyak buku-buku cerpen dan novel hingga saatnya nantiaku bisa membaca kembali karya sahabatku tercinta yang tentunya sudah tidak membutuhkan komentarku lagi karena mungkin kamu tak sekedar menuliskan isi hatimu tapi juga menuliskan semua ide-idemu melalui cerita yang terangkai dengan kalimat yang indah dari kemampuan yang kamu muliki.

Aku tunggu kabar baik darimu. Aku yakin Aya BISA!!!.

Wassalam…

 

Sahabatmu

 

Iqbal Fauzi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s