SKRIPSI

Tidak terasa kuliah telah memasuki masa akhir, jumlah sks sudah mulai sedikit, namun kesibukan justru lebih banyak menanti. Mau tidak mau harus sudah mulai memikirkan skripsi. hari demi hari kulalui seperti ada yang mengikuti, menghantui dan selalu menakut-nakuti. Tidur tak nyenyak, makanpun tak enak. Tuhan,,,inikah rasanya menjadi mahasiswa semester akhir?

Langkah pertama dimulai dengan mencari tema. Tema tak kunjung dapat, judulpun pasti ngadat. Haruskah perjalanan terhenti sebelum dimulai?

Mulai lagi menguras otak, menggali memori tentang masalah pendidikan, pendidikan dan pendidikan. Baca, baca dan baca lagi. Kepala terasa semakin berputar, suhu badan naik,dan perasaan tak karuan.hhhmmm,,,sabar. Yakinlah bahwa ini proses yang harus dilalui.

Butuh pencerahan, butuh motivator, butuh konsultan, butuh teman curhat. Aku mulai mencari sasaran, siapa orang yang beruntung itu. Baru sadar, ternyata ini adalah masa yang sangat sulit. Bagaimana tidak? Masa dimana orang tua tidak bisa membantu, teman tak mungkin diganggu, pacar tak bisa tuk mengadu.

Yang bisa dilakukan sekarang adalah, membuka leptop, nongkrong diperpus, mainkan jari di atas keyboard sambil sesekali melirik bangku disebelahku. (mencari inspirasi)

Menulis di blog menjadi pelarian yang paling mengasyikkan disaat seperti ini. Aku terkesan seperti orang pintar jika dilihat teman sebelahku, karena tak henti-hentinya mengetik. Aku juga tidak begitu menyesal karena waktuku yang terbuang sia-sia. Setidaknya aku bisa mendokumentasikan untaian menit yang menyebalkan, membosankan dan melahkan ini dengan tulisan.

Dan…pada akhirnya aku kembali, ternyata aku belum juga dapet judul skripsi. Huuuh judul oh judul…sulitnya menemukanmu,

Wahai skripsi, inginnya aku bersamamu…

Yang pasti, sekarang skripsi bukan lagi mimpi buruk seperti yang aku takutkan beberapa tahun yang lalu, melainkan kenyataan yang harus dihadapi, dijalani dikerjakan dan diselesaikan.

SMANGAT!

 

 

 

Belajar Dari Awan

BELAJAR DARI AWAN
Setujukah jika hujan adalah tangisan awan?
Awan selalu mengumpulkan kegalauan hatinya menjadi mendung
Saat awan tak sanggup lagi bertahan,turunlah rerintik hujan yang jatuh lamat-lamat
Tapi, mengapa terkadang awan melukiskan pelangi diwajahnya?
Bukankah pelangi itu simbol keceriaan?
Ternyata awan tak betah dengan kesedihan
Saat hujan turun, ia segera mengusapnya dengan hangat mentari
Hingga airmata itu menjelma menjadi warna yang merekah

Lalu, bagaimana dengan manusia?
Tatkala hati menimbun kegundahan teramat sangat, Dan kepedihan bertahta hebat
Terurailah butiran kelopak mata yang hangat
Namun, mengapa kesedihan itu merekat kuat?
Tak bisakah kita belajar dari awan?
Tetap mampu menciptakan keindahan dibalik kepedihan

Tensi 80

Pernahkah kalian merasakan ketika tubuh yang sangat kita cintai ini tidak lagi berpihak pada kita?
Keinginan membuncah, obsesi membumbung tinggi, semangat melejit, tapi kemampuan tidak ada. Itulah aku sekarang.
Rasanya seperti dikhianati oleh kekasih, atau bisa jadi lebih dari itu..
Sebab sakit ini bukan sakit biasa, luar dalam. Baru pernah aku sangat membenci sekantong plastik putih yang harus aku tenggak sehari tiga kali, segelas susu sebelum berangkat kuliah dan sebelum tidur, bahkan akupun muak pada sari roti yang aku gunakan untuk menyumpal obat yang menyumbat dikerongkongan.
Rasanya, wek pahiiit. Tapi sumpah! Lebih pahit lagi ketika aku dipaksa harus menjelma jadi anak manja yang wajib minum susu, tidur tepat waktu, gak boleh makan-makanan pedas, asam, dan berminyak, dan yang lebih parah lagi ketika aku diminta untuk mengosongkan pikiran. Karena itu adalah hal tersulit yang pernah aku coba.
Well, sejauh ini walaupun aku tidak suka, tapi aku masih melakukan semua ritual itu. Demi kesehatan dan semangatku tentunya. Bukan untuk yang lain.
To all my best friends…
Sejak seminggu yang lalu, aku merasa ada yang tidak beres dengan tubuhku. Awalnya aku mengira 50% nyawaku masih tertinggal di rumah, kemudian berbagai upaya aku lakukan untuk mengembalikan energiku yang 50%. Sebab aku gak betah dengan badan yang susah di ajak untuk bersemangat, maunya lemes terus. Hari berikutnya, keanehan mulai terjadi dikepalaku, dari pagi kuliah pukul 07.00 sampai selesai 16.00, waktu itu aku masih kuat untuk melanjutkan aktivitas sampai petang menjelang.
Tiga hari kemudian, aku masih belum bisa menyerah. Padahal badanku lemah tak berdaya, aku yakin andai kakiku ini bisa bicara, dia pasti sudah mencaci maki aku karena terus aku gunakan. Dan yang paling mungkin mengutuk aku adalah kepalaku, karena pusat dari kesakitanku ada dikepala, tapi aku benar-banar tidak bisa beristirahat dari aktifitas berpikir. Sudah sering aku coba istirahat sejenak untuk melupakan semuanya, pada saat yang sama justru sesuatu datang bertubi-tubi memenuhi kepalaku. Ada rangkaian cerita laki-laki penyapu jalan, Kugy si penulis dongeng, si Alat pencetak imajinasi, bukit Jambul yang pindah ke depan rumahku. Aggghhhh….semua itu imajinasi. Dan kadang aku lelah karenanya. Kadang aku bingung, apa ini suatu kelebihan yang patut disyukuri, atau sebaliknya. Yang pasti, aku sering merasa terganggu waktu istirahatku gara-gara waktu tidurku semalaman dihantui oleh imajinasi-imajinasi aneh.
Berkat teman-teman asrama yang begitu perhatian, aku dipaksa untuk pergi berobat. Dan pergilah aku ke poli umum, pemerikasaan dokter tidak menyebutkan ada indikasi penyakit apa-apa, hanya kelelahan dan pikiran yang menyebabkan sakit dikepala. Aku senang, dan mulai memperlakukan diriku sebagaimana mestinya, beraktivitas seperti biasa ketika aku sehat.
Tak ku duga, di kelas ada beberapa teman yang bilang aku pucat. Ya, terimakasih atas perhatianya, dan tidak memungkiri aku sedikit senang karena setidaknya ada teman yang tau bahwa aku sedikit tidak sehat waktu itu. But, dampaknya semangatku jadi ciut, aku jadi semakin lesu hanya karena ada yang bilang aku pucat. Sungguh, ini tidak bisa dibiarkan. Lalu aku putuskan untuk berlagak seperti biasa dan mencoba seenergik mungkin. Dan akibatnya, setelah pulang dari kampus, badanku serasa dipanggang tanpa minyak di atas kuali, tidak juga diberi siraman kecap. Alias panaaaaas, dan yang pasti tidak ketinggalan sensasi CETHARRR dikepalaku semakin menjadi-jadi. Ampuuuuuuuunnn…….aku kapok dengan kelakuanku sendiri.
Esoknya aku kembali lagi ke dokter, panasku masih tinggi, tenggorokan sakit dan sekali lagi kepalaku tersayang yang super sakit. Aku cek darah, karena dikhawatirkan kena demam berdarah, rasanya disuntik dan diambil darah buat sampel, hmmmm lumayan bikin aku merem sambil mringis. Tapi ternyata darahku baik-baik saja. Tensiku rendah, hanya 80, nah ini dia yang bikin aku selalu lesu. Kemudian diagnosa dokter aku terkena radang tenggorokan.
Dan selama beberapa hari kedepan, aku harus rela terbaring lemah di kasur dan hanya bisa memandang langit-langit dan dinding kamar.

This entry was posted on 23 November 2012. 2 Komentar

INSPIRASI

Menurut teori dualisme, tubuh manusia terdiri dari jasmani dan rokhani, jiwa dan raga,fisik dan psikhis yang antara keduanya saling melengkapi.
Aku menemukan hal yang sama pada kecenderunganku. Bagiku, hidupku juga memiliki konsep dualisme tubuh, aku memiliki ketertarikan dan ambisi yang amat sangat terhadap dunia fiksi (sastra), namun kenyataanku sebagai pelajar dan hidup didunia nyata, aku dituntut untuk lebih sering sibuk dan berkutat dalam dunia non fiksi. Aku menganggap ini bukan duniaku. Sementara hari-hariku sibuk dengan tugas-tugas karya ilmiah, makalah dan buku-buku ilmu pengetahuan, ada hati kecilku yang teriak dan memohon untuk didengarkan. Dia menyuarakan ketidak adilanku karena telah menduakan mereka.
Ada bisikkan-bisikkan yang menggelitikku untuk sekedar menyapa mereka. Bahkan ketika aku tengah semangat dengan segala aktivitas akademikku, kadang tiba-tiba saja tubuhku down, lemah dan tepar tak berdaya. Pikiran liarku sedikit menuduh “ini adalah kutukan dari sang fiksi, karena kecemburuannya saat ini”. Kucoba rebahkan badan dan istirahat sejenak, kulepaskan segala pikiran dan berusaha rileks. Tetapi ketika itu juga fiksi mengambil kesempatan dan datang beribu-ribu imajinasi yang mendorong jemariku untuk menulis. Mengalirkan kisah-kisah dan cerita-cerita pendek sebagaimana yang biasa aku lakukan.
Tak bisa aku salahkan, karena aku sangat mencintai mereka, bahkan aku selalu menunggu kedatangan mereka. Adalah inspirasi. Yang selalu dicari, ditunggu, dan didamba kehadirannya oleh setiap orang. Dewi lestari bertutur dalam novel supernova yang berjudul Partikel, bahwa inspirasi itu seperti “jodoh”. Ia akan memilih inangnya, ketika bertemu dan pas, terjadilah perkawinan dan muncullah entitas baru. Jadi, sudah selayaknya aku berterimakasih atas kesempatan itu.
Terimakasih inspirasi…

Mengalah

Oktober memasuki setengah yang terakhir. Untuk bulan ini belum ada tulisan yang bisa aku posting ke blog. Bukan karena males, bukan juga karena tak ingin menulis. kegiatanku dibulan ini membuat inspirasi yang sempat mendarat diotak menjadi terbang kembali sebelum aku sempat menuliskannya. Setiap ingin menulis, selalu ada saja ada dideline tugas yang harus lebih dulu aku selesaikan, jadi terpaksa penaku harus kembali mengalah.
Sempat terfikir untuk meminta maaf pada pena fiksiku yang harus aku duakan dengan karya ilmiah dan makalah-makalah. Pada folder cerpenku yang sekarang semakin jarang aku jamah. Pada blogku yang jarang aku buka dan mungkin sudah banyak sarang laba-laba menutupi tulisanku. maaf bukan aku tak sayang kalian…tapi aku yakin, kalian semua ngerti aku. Aku janji setelah semua tugasku selesai, aku akan segera menghampiri kalian dan kita akan kembali seperti dulu lagi. Untuk saat ini, tetaplah bersabar dan selalu dukung aku ya…

ASAP HITAM DI RUMAHKU

Lurus, kulempar pandangan kedepan. Luas membentang tanaman padi yang mulai menguning. Pohon kapas di sudut-sudut pematang sawah nampak seperti seorang penari yang berpose gemulai. Nyiur melambai daun kelapa menjadi tempat berlindung bagi para petani dari sengat matahari. Gemericik air selokan menjadi sumber irigasi. Anak-anak kecil berlarian di pematang sawah, sambil sesekali terdengar teriakan riang mereka. Demikianlah pemandangan yang senantiasa kunikmati setiap saat. Disini, di depan rumahku tampak sejuta keindahan dari bukit yang berdiri dengan kokoh. Membatasi lepas pandang mataku.
Dulu, kala aku masih kecil, sering kuhabiskan waktu disana, tempat dimana para petani itu singgah, berlarian persis anak kecil yang memekikkan keceriaan yang aku lihat hari ini. Semua tampak sama, tak banyak yang berubah.
Masa pasca panen biasanya akan menjadi surga bagi kami untuk bermain layang-layang. Bagaimana tidak? Angin dipersawahan masih kencang, pun tak ada penghalang seperti pohon, kabel, atau rumah penduduk jadi layang-layang bisa menari dengan bebas di angkasa.
Sempat terlintas dibenakku jika suatu hari nanti aku akan kehilangan tempat seindah ini akibat arus modernisasi. Kala hamparan padi disulap menjadi perumahan dan gedung-gedung industri. Pohon-pohon kapas menjelma jadi tiang-tiang penyangga sumber kehidupan manusia modern. Ialah listrik.
Tenaga listrik, yang mengantarkan air dari dalam tanah ke dalam rumah, listrik yang menyebabkan asap dapur dari kayu tergantikan oleh tenaga magic. Listrik pula yang menjadikan semilir angin pepohonan ditukar dengan kesejukan air conditioner. Belum lagi kotak ajaib yang menyuguhkan segudang hiburan dan informasi (televisi), pun menggunakan tenaga listrik. Sementara selokan, sebagai sumber irigasi akan berubah menjadi kelokan kerikil berpadu aspal, tempat kendaraan melanglang buana. Aghhh…pahit sekali.
Hingga kini, tempat ini masih menjadi surga bagiku. Tempat ini selalu menyuguhkan kesejukan kala dunia terik oleh mentari, menjanjikan kedamaian ketika orang-orang diluar sana sibuk dengan urusan duniawi, menghadirkan solusi atas segala persoalan hidup. Keberadaan tempat ini semakin mempercantik istana kecil tempat aku dan keluargaku tinggal.
Sekarang, setelah aku dewasa aku tak lagi menghabiskan waktu di sana lagi. Tapi aku masih tetap bisa menikmati keindahan bukit Buluwayang dari teras depan rumahku. Aku dan ibu yang selalu setia duduk dan mengagumi keindahan alam di depan rumah tanpa jemu. Kekagumanku pada alam berpadu dengan kekagumanku pada ibu, makhluk Tuhan paling luar biasa yang tercipta untukku dan untuk keluargaku. “Setelah bapakmu pergi, setiap pagi dan sore hari ibu selalu duduk disini, kadang ditengah lamunan ibu masih berharap bapakmu tiba-tiba pulang. Tapi ibu segera sadar kalau bapakmu memang sudah pergi untuk selamanya dan gak mungkin kembali lagi”. Tutur ibu ditengah waktu santai kami.
***
Suatu siang…
Hal yang paling aku takutkan seketika terjadi, bahkan jauh lebih parah dari yang aku bayangkan. Keindahan di depan rumahku musnah. Bukit yang kemarin masih hijau dan berdiri kokoh, kini berubah warna menjadi kuning kemerahan, menyala. Bukit itu menjadi sumber bara api yang meluap-luap dan siap melahap apapun disekitarnya. Menebarkan asap hitam pekat. Pohon kapas dan pohon kelapa di pematang sawah ternyata bukan lagi menjadi tiang listrik seperti yang aku bayangkan, tapi raib. Hilang sudah hamparan padi menguning yang siap panen, menjadi butiran abu yang berterbangan tertiaup angin.
Asap hitam pekat itu sampai pula kehalaman rumahku, dan sedikit demi sedikit mulai memasuki celeh-celah dinding rumah. Menyusup ke lubang hidung dan terus merayap menyesakkan dada. Tak tampak suatu apapun di depan mataku, gelap. Semua lenyap. Berontak hati menyaksikan ini semua, namun tak bisa berbuat apa-apa. Hanya mampu mengumpulkan sedikit demi sedikit memori dikepalaku, apa gerangan yang menyebabkan ini semua terjadi.
Aku dapati ibu ketika itu menangis sambil memeluk adikku. Di tengah isaknya suara ibu terdengar lirih membisik “kalian harus kuat, harus tetap bertahan, sebab itu hanyalah asap hitam yang berusaha untuk melemahkan kalian.” Aku mengerti maksud ibu tanpa harus berpikir mendalam.
Menyaksikan asap yang hitam pekat memenuhi rumahku, tak banyak yang bisa aku perbuat selain hanya menutupi lubang hidungku dengan tangan. Sebab tak mungkin aku mampu melenyapkan asap kecuali hanya dengan memusnahkan sumbernya yaitu api. Namun aku pikir, pertarungan ini bak semut melawan gajah. Alias lawan yang bukan tandingannya.
Aku tersungkur dihadapan ibu, sepertinya ibu paham dengan jalan pikiranku, dan sepertinya ibu membenarkan sikapku. Lambat laun api itupun mati dengan sendirinya, tanpa harus bersusah payah kami mematikannya.
Semuanya berlalu, aku tau, ibu tau, adikku tau, dan kami semua tau. Namun kami tidak sanggup untuk membahas peristiwa itu. Seolah kami semua sepakat untuk bungkam dan membiarkan semuanya berlalu.
Kejadian itu membuat keluarga kami terpuruk dan semakin tersungkur. Sulit rasanya untuk memulai semuanya dari awal, menciptakan kembali keindahan yang pernah kami nikmati. Mengembalikan keelokan yang telah musnah menjadi abu. Menyatukan kepingan-kepingan ranting yang telah hancur. Menempelkan kembali helai dedaunan yang telah lebur.
Selang beberapa hari, sesak di dada kami mulai hilang. Kami mulai membersihkan rumah kami dari serpihan-serpihan sisa pembakaran. Ibu tampak semakin kuat sekarang, setelah kejadian yang menggetarkan itu terjadi. Ternyata benar, bahwa semakin besar rintangan yang dihadapi maka akan membuat seseorang menjadi semakin kuat.
***
“Kalian ingat apa yang terjadi kemarin lusa?” ibu memulai percakapan.Pelan aku menggelengkan kepala, sambil mencoba menerka dalam hati “mungkin kebakaran maha dasyat yang terjadi di bukit dan asapnya sampai kedalam rumah” .
“Itu semua adalah ulah Pakde Noto…” lanjut ibu. Aku terkejut dengan nama yang disebutkan ibu barusan. Sebab Pakde Noto adalah orang yang paling baik pada keluarga kami setelah bapak meninggal. Bahkan dia telah menganggap si bungsu sebagai anaknya sendiri, yang ketika itu masih dalam rahim ibu waktu bapak meninggal. Dia juga yang telah membantu biaya pendidikan kami.
“Dulu bapakmu dipecat dari jabatan sekretaris desa karena dia kekeh menentang politik-politik Pakde Noto yang mulai curang menjalankan amanat rakyat. Rupanya dia mulai terjangkit oleh penyakit yang banyak diderita oleh para pejabat di negeri ini. Uang pajak rakyat dari tahun ketahun tidak pernah utuh disetorkan ke pusat, dan tidak ada pembukuan yang jelas mengenai hal itu. Bapakmu mencoba untuk mengorek-orek sisa pemerintahan periode sebelumnya yang juga dipegang oleh Pranoto. Ternyata niat mulia bapak diketahui oleh Pranoto bersama kroni-kroninya. Alhasil bapakmu dipecat dari jabatan itu, padahal kalian semua masih sangat membutuhkan biaya pendidikan.” Ibu menghela nafas panjang mengambil jeda, sambil menyeka air mata.
“Setelah kejadian itu, kesehatan bapak semakin hari kian memburuk, beban pikiran menafkahi keluarga dan menahan malu ditengah masyarakat yang terkena hasutan Noto, bapak mengalami tekanan darah tinggi yang menyebabkan komplikasi pada paru-paru dan jantungnya. Dan pada akhirnya bapakmu tidak lagi dapat bertahan, mengalah ditengah kemenangan membela kebenaran.”
Cerita ibu tadi sangat mengejutkan hati kami, betapa selama ini kami begitu santai menjalani hidup kami di kota, bersekolah dan kuliah atas jerih payah orang tua. Namun kami tidak tau apa yang sesungguhnya terjadi di rumah. Orang yang selama ini kami kagumi sebagai pemimpin namun ternyata bukan pemimpin, menguasai namun ternyata bukan penguasa. Dihormati namun ternyata tak terhormat.
Merusak keindahan keluarga kami, merampas kebahagian kami, menjajah kemerdekaan kami, mematahkan semangat kami sekaligus menyuramkan masa depan kami. Seketika aku tersadar, bahwa kebakaran mahadahsyat yang menghabiskan segala keindahan di depan rumahku hanya ada dalam lamunanku saja. Saat menyaksikan keindahan dalam keluargaku yang direnggut oleh manusia biadab macam Pranoto.
Keindahan di depan rumahku itu adalah kelurgaku. Nyala api itu adalah keserakahan orang yang berkuasa. Sedangkan asap hitam pekat adalah kesedihan yang hadir akibat bara api.Sekarang, mungkin kami serupa asap yang tak mampu berbuat apa-apa. Namun pada saatnya nanti akan kami buktikan, bahwa kami tak lagi menjadi asap yang tak berdaya.

This entry was posted on 29 September 2012. 1 Komentar

SEBUAH KISAH

SENYUM BIDADARI RAMADHAN

Oleh: Dhia Ulmilla

Kicau burung pipit menyambut memancarnya cahaya merah merona sang mentari, embun menari di pucuk dedaunan, hawa dingin menusuk memasuki rongga dada. Aku yang masih terkapar di atas pulau kehangatan, berbalut selimut tebal seolah enggan membiarkan udara pagi menyentuh kulit, meski mata enggan tuk terpejam namun kamar ini seolah mengunci seluruh persendianku, setiap sudut seakan menyeruku untuk tetap tinggal, kasur ini mengerahkan seluruh gravitasinya, pintu, jendela, meja, kursi, almari dan kaca rias pun tersenyum seraya mendukung pembantaian yang dilakukan oleh selimut tebalku. Sejenak ku biarkan rasa malas ini bergelayut dalam diri. “Winda…Winda…” terdengar suara mama memanggilku, sepertinya mama tau kalau aku tengah menikmati kemalasan ini. “Ya Allah…anak gadis mama jam segini masih tidur?” mama terdengar membuka pintu dan mulai memasuki kamarku, langkah lembut kakinya terasa kalau ia semakin mendekati persembunyianku “Winda…” mama membuka selimutku, aku kaget seketika karena mama membuka selimut tepat dibagian wajahku, “hehe…” aku tersenyum kecut pada mama, mama meninggalkanku seolah enggan mengucapkan sepatah katapun. Bosan. Mungkin itu yang mama rasakan menghadapi tingkahku ini. Mama beranjak mendekati jendela kamar, aku sudah bisa membaca apa  yang akan mama lakukan kemudian, membuka jendela kamarku dan membiarkan udara pagi masuk, seolah ingin membuktikan bahwa hari sudah tidak lagi gelap. Semburat cahaya terang terlihat berdesakan masuk melalui jendela kamarku, juga melalui fentilasi yang berada di atasnya.

“Kamu itu opo yo tidak malu sama anak-anak itu?” seraya menunjuk segarombolan anak-anak yang mengenakan pakaian putih merah, “jam segini sudah mandi, sudah rapi, berangkat ke sekolah, sedangkan kamu? Sudah besar  tapi kok masih malas-malasan begitu, kalah sama anak SD.” Ucap mama kemudian. Dalam keadaan masih mengumpulkan tenaga, aku mencoba membela diri “Mama, dulu waktu Winda masih SD juga jam segini sudah mandi,  sudah rapi seperti mereka, tapikan Winda sudah besar Ma, kuliah juga sudah libur jadi sekedar bermalas-malasan di kasur nggak apa-apalah…” “justeru karena kamu sudah besar, harusnya kamu lebih baik dong, bukanya malah tambah malas seperti itu!” “ah…Mama ini,kayak nggak tau Winda aja…” “karena mama tau, kamu nggak mungkin bangun kalau nggak mama jemput ke kamar, iya kan?” “hehe…” aku kembali menyunggingkan senyum memperlihatkan gigi kelinciku “iya Ma, Winda bangun sekarang” “bagus, itu lebih baik, sekarang cepetan mandi terus temani mama ke pasar ya…” “nggih ma” sambil ku sunggingkan senyum kembali sekedar tanda sepakat. Mama keluar dari kamarku, begitupun aku langsung bergagas untuk mandi. Tampaknya mama akan selalu bisa membaca pikiran anaknya, mama selalu saja bisa bikin aku kalah, atau setidaknya mengalah.

 Sudah satu minggu aku di rumah, dan selama itu pula rutinitasku ini selalu ku ulang setiap hari, seolah tidak bisa merubah kebiasaan burukku di kost. Mulai dari bangun tidur, makan sahur, nonton tv sambil menunggu waktu subuh, sholat subuh berjamaah, masuk kamar kembali, mengaji sebentar kemudian tidur lagi. Di tempat nun jauh disana, rutinitasku yang seperti ini lepas dari pantauan mama. Teman-temanku disana pun tidak jauh berbeda dengan aku, maklum anak kost. Selalu itu yang menjadi dalil bagi kami.

Tepat limabelas hari aku berpuasa di rumah, berbuka dan makan sahur bersama mama, sholat tarawih berjamaah, makan masakan mama, sampai membantu mama manyelesaikan pekerjaanya. Bukan hal mudah memang membuat aku menikmati semua ini, terlebih dengan kebiasaanku yang suka bermalas-malasan. Tapi dengan ketelatenan mama, seolah menjadi terapi handal mengobati aku dari penyakit ini. Mama telah berhasil membuat aku menjadi sedikit rajin, walaupun terpaksa pada awalnya. Mencuci piring, mencuci baju, membersihkan rumah, berbelanja ke pasar, memasak, hingga menyelesaikan pesanan baju untuk lebaran. Kenyataan inilah yang membuat aku sadar betapa beratnya tugas seorang wanita. Tugas seorang wanita pula untuk merawat, mendidik dan membesarkan anaknya. Mama mengajariku segalanya, segala tentang wanita. Dan ketika aku buka mata, mama menjelma menjadi sosok terindah melebihi bidadari, penerang hidupku melebihi cahaya matahari. Ketegaran mama yang selama ini ku abaikan, tak lekas membuat mama putus asa memberiku pengertian. Mama terlahir sebagai pribadi yang tangguh dan akan tetap tangguh selamanya. Kepergian papa bersama wanita lain dengan membawa kesuksesanya sebagai pengusaha, pun tidak serta-merta membuat mama jatuh. Justru dengan tamparan ini, mama menjadi semakin kuat melebihi karang. Bagaimana tidak, usaha yang dirintis dari awal bersama papa, bukan mengantarkanya pada kebahagiaan tetapi malah membuat papa semakin liar diluar sana hingga jatuh ke pelukan wanita lain dan memutuskan untuk meninggalkan mama dan aku. Ketika itu papa menjadi sosok yang paling aku benci di dunia ini, sering aku menghayal  andai saja suatu hari nanti membunuh orang tidak dosa hukumnya, maka orang yang pertamakali aku cari adalah papa. Akan aku habisi nyawanya dengan tanganku sendiri.

Aku memang selalu berusaha tampak biasa dihadapan mama, dan aku yakin jika matahariku mengetahui tentang apa yang ada di hatiku ini, pasti tidak akan tinggal diam, sebab ia memiliki hati sejernih embun, bak seorang malaikat. Ditengah kesakitannya , mama selalu berusaha membuatku tidak membenci papa, bagaimanapun dialah orang yang menjadi sebab aku terlahir di dunia ini. Selalu itu yang mama ucapkan padaku. “Tapi bukan untuk dicampakkan!” Kalimat itu yang mampu membuat mama meneteskan air mata dan memelukku. Bukan maksudku menyakiti mama, melainkan ekspresi kemarahanku pada laki-laki biadab yang telah membuatku terlahir di dunia. Laki-laki yang pernah membuat bidadariku kehilangan senyumnya. Memang. Mama sosok tegar dihadapanku, namun ia adalah wanita, dan tetaplah seorang wanita, yang tetap tidak bisa membendung air matanya di hadapan sosok yang kata-katanya pernah dijadikan sabda olehnya, siulanya pernah menjadi firman baginya. Papa, aku tetap membencimu.

Pekerjaan mama sebagai penjahit mampu menjadikan mama semakin sempurna bagiku, wanita sempurna yang melahirkan seorang gadis yang menyempurnakan hidupnya. “kebahagiaan tertigginya adalah mampu membahagiakanku” katanya.

Nyaring. Detak jarum jam tetap pada porosnya, perpindahan arah menandakan semakin berjalannya waktu. Lengang, hanya sesekali terdengar cicak yang mencari mangsa. Kasihan, mangsanya mampu terbang melayang, tapi dia tetap saja ngedaplok di tembok, batinku. Tapi biarlah, itu merupakan rahasia Allah sekaligus sebagai salah satu tanda kebesaranNya. Ku lirik jam di dinding menunjukan pukul 02.00. Ada desakan dari dalam diri yang memaksaku untuk beranjak dari tempat tidur, menjadi kebiasaanku bangun ditengah malam sekedar buang air kecil, nasihat mama agar aku memanfaatkan kebiasaanku ini untuk menunaikan Qiyamul lail  dan aku mengikutinya. Mengambil air wudhu walaupun dingin menyergap dan mendirikan sholat walaupun dua rakaat. Sekedar mengadukan keluh kesahku pada Sang Maha Mendengar, tak jarang pula aku sampaikan berbagai permintaanku padaNya, “jika segala sesuatu yang tidak kita minta saja Allah kasih, apalagi kalau kita mau meminta?” begitu kata mama, sekedar membuatku semangat untuk tetap menjaga sholat malamku. Pelan kubuka pintu kamar, dengan langkah gontai aku berjalan menuju kamar mandi, seperti biasa mama selalu mendahului aku bangun. Terlihat mama sudah asyik dengan permainan jarum dan benang di tanganya, ia tengah memesang kancing hias pada gamis ungu tua yang dikombinasikan dengan sedikit ungu muda pada bagian lengan, kerah dan bagian bawah gamis, membentuk kombinasi warna yang sangat elok, ditambah dengan tempelan payet di bagian atas membuatnya terkesan lebih mewah. Milik orang kaya, pikirku. Keluar dari kamar mandi aku merasa lebih segar meski masih sedikit tersisa kantuk dari mulutku yang lagi-lagi menguap. Tanpa ba bi bu, ku sambar mukenah dan segera sholat 2 rakaat. Usai menuturkan segala keluh kesahku, aku keluar dari kamar dan membantu mama mempersiapkan makan sahur. Terdengar suara kentongan dan suara dari speaker yang tercecer disetiap mushola, mereka menggunakan cara masing-masing membangunkan  warga untuk makan sahur. Ikan goreng, sayur asam, tempe goreng, dipadu dengan sambal telah menghiasi meja, dan kami siap untuk makan. Serial acara di televisi menemani makan sahur kami, tingkah polah pelawak Olga syahputra, Komeng dan kawan kawan tak jarang membuat kami tertawa terpingkal-pingkal. Selesai makan, segera ku rapikan meja dan kembali mencari posisi ternyaman di depan televisi. Mama kembali pada keasyikanya memainkan jemarinya. Tak lama kemudian terdengar pemberitahuan bahwa waktu imsak telah tiba, mama menyuruhku minum air putih untuk sekedar menghindari dahaga disiang nanti.

Kumandang adzan bersautan menyusul waktu imsak, mama menghentikan aktivitasnya , begitupun aku. Sholat berjamaah menjadi kebiasaan aku dan mama, berjalan menuju masjid merupakan keistimewaan bagi kami, karena kami percaya bahwa satu langkah menuju kebaikan mengalir berjuta pahala.

Hari semakin beranjak, menandakan bahwa bulan mulia ini akan segera berakhir, kesedihan dan rindu mendalam untuk mendapatkan keberkahan di bulan Ramadhan senantiasa bertahta dalam jiwa. Sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan memberikan keistimewaan yang paling diantara seluruh keistimewaan dalam bulan ini, malam diturunkanya al-Qur’an. Seluruh umat mendambakan malam itu, malam seribu bulan. Ketika sejuk udara berhembus tenang, menyejukan jiwa, membawa kedamaian, dedaunan menari seraya bertasbih, sunyi, binatang-binatang tunduk memuji asmaNya, bintang-bintang bertaburan, beribu malaikat turun ke bumi. Seluruh alam bersujud menyambut datangnya Lailatul Qadar. Tak ayal aku dan mama juga sangat mendambakan untuk dapat kesempatan beribadah dimalam itu, dimana pahala yang dijanjikan adalah melebihi beribadah dalam seribu bulan, subhanallah. Kami semakin meningkatkan kualitas ibadah kami.

Di sisi lain suka cita menyambut datangnya hari yang Fitri membuat kami semakin sibuk dengan aktivitas duniawi, terutama mama yang harus segera menyelesaikan pesanan baju sebelum tanggal yang telah ditentukan dengan pelanggannya. Tanggal 27 Ramadhan adalah batas waktu mama harus menyelesaikan semuanya, aku tak bisa membiarkan mama begitu saja menyelesaikan seluruh pekerjaan ini, ku lakukan apa yang bisa aku perbuat untuk sekedar meringankan tanggungjawab mama. “Sudah nduk, biar mama saja yang menyelesaikanya, ini sudah malam lho, nanti malah susah dbangunin buat sahur…” Ucap mama ditengah kesibukanya menjahit dengan tapak kaki yang mulai lelah, tangan yang sudah tak begitu lincah, guratan hitam dicekung matanya pun semakin nampak. “nggak apa-apa ma, Winda masih belum ngantuk kok, lagian masa Winda kalah sama mama, Winda kan masih muda masih segar untuk tidak tidur hanya dalam semalam” senyumku ku kembangkan untuk membesarkan hati mama.

Hari berikutnya seluruh pesanan baju telah diambil oleh pemiliknya, aku sedikit bernafas lega. Tapi dengan sifat keibuanya, mama masih memikirkan untuk mempersiapkan segala sesuatu untuk menyambut hari raya Idul Fitri. ”Mama, untuk kue lebaranya, mendingan kita beli aja, mama sudah terlalu lelah untuk melakukan semuanya sendiri, Winda nggak mau mama kenapa-napa gara-gara kecapean, sudah berapa malam mama tidak tidur? Ingat Ma, tubuh mama juga punya hak untuk beristirahat” desak aku pada mama sebagai tanda sayang. Tapi semua celotehku ini seolah tidak membekas bagi mama, ia hanya menanggapinya dengan senyuman. Dengan sisa tenaga yang ia miliki mama mengajariku untuk senantiasa melakukan setiap pekerjaan sendiri, tanpa bergantung kepada orang lain  selama kita mampu. Termasuk hal yang satu ini, menyiapkan kue-kue untuk lebaran. Mama enggan untuk membeli di toko, karena menurut mama ia masih mampu membuatnya sendiri. Wanita sempurna harus mampu melakukan segala sesuatu sendiri, kata mama. Akupun tetap siap sedia untuk menyumbangkan tenagaku, akar kelapa, sagon panggang, hingga kue nastar lewat di tangan mama, semuanya berhasil mama selesaikan. Hebat. Bisiku dalam hati.

Hari terakhir dibulan Ramadhan, tak hanya aku dan mama yang sibuk menyiapkan  ini dan itu, ketupat dan opor ayam menjadi menu utama dihari lebaran, segala hal berkaitan dengan masak-memasak mama ahlinya, aku bahagia karena bisa membantu mama dengan maksimal di Ramadhan kali ini, karena ini pertamakalinya aku berpuasa penuh satu bulan di rumah bersama mama, sebab biasanya aku pulang dua atau tiga hari menjelang lebaran, dan mama tidak pernah mengizinkan aku membantu pekerjaanya yang begitu berat. Seharian menghabiskan waktu bersama mama sangat istimewa bagiku, apalagi setelah aku tau betapa usaha mama banting tulang yang tak lain adalah untuk anak semata wayangnya ini. Muncul tekad yang begitu kuat dalam dada untuk dapat membahagiakan mama.

Senja bertakbir, matahari perlahan mulai terbenam kembali keperaduanya, sinarnya memancarkan semburat merah keemasan, hari merangkak berganti menjadi malam yang menjanjikan sejuta kedamaian. Kedamaian bagi seluruh manusia yang telah lelah bekerja seharian. Mereka menggunakan malam sebagai batasan untuk melakukan istirahat yang sempurna, tidur dengan pulas mengumpulkan energi untuk hari esok, walaupun tak jarang pula sebagian orang menggunakan malam untuk mengadu dan bercengkerama dengan Sang Penguasa Alam, Dzat yang tidak pernah tidur, tak ada satupun yang luput dari pengawasanya. Itulah yang dilakukan hamba yang selalu berserah diri dan menggantungkan segalanya pada Illahi Robbi, Alhamdulillah dipanjatkan sebagai tanda terimakasih, Subhanallah untuk memuji Dzat yang Maha Suci, Allahu Akbar sebagai ikrar bahwa Dialah Tuhan yang Maha Besar. Air matanya senantiasa berlinang pertanda pengakuan kelemahan diri seorang hamba, hatinya bergetar tanda cinta yang amat mendalam pada sang Esa, sakit merasuk mengiris hati menahan untaian rindu jumpa dengan sang Khaliq. Semua hal itu senantiasa dilakukan oleh mama, menghabiskan waktu disiang hari berkutat dengan kehidupan dunia, pun tak mau ketinggalan dengan urusan akhiratnya, mama selalu bermunajat, bibirnya mengucapkan dzikir-dzikir, jemarinya lihai memutar tasbih, tak terbendung air matanya untuk memohon pada Allah.

Takbir mulai berkumandang dimana-mana sejalan dengan alunan senja, indah irama bedug mengiringi lafadz-lafadz suci tanda suka cita menyambut hari yang fitri. Selesai berbuka dan sholat maghrib mama memanggilku ke kamarnya, tak biasa mama memanggilku ketika ada hal yang ingin dibicarakan, biasanya mama yang datang sendiri ke kamarku. Cepat aku menuju kamar mama memenuhi panggilanya, aku tau mungkin mama terlalu lelah untuk sekedar mendatangi kamarku. Rasa penasaran pun tak ketinggalan memenuhi otaku, hal penting apa yang akan mama bicarakan padaku? Terjadi perdebatan sengit dalam pikiran, timbul pertanyaan dan kucoba jawab sendiri seluruh pertanyaanku itu sebagai jawaban sementara. Aku mengetuk pintu kamar mama, lama ku menunggu jawaban dari mama untuk mempersilahkan aku masuk, tapi tak kunjung ku dengar suara itu. Akhirnya aku memberanikan diri untuk membuka pintu dan masuk ke kamar mama tanpa menunggu aba-aba sebagai izin dari empunya kamar. Mama masih berbaring, mungkin sangkin capeknya, kudatangi mama ke tempat tidurnya. Mama tersenyum padaku dan menyuruhku duduk di samping tempat ia berbaring. “Winda, mama sangat berterimakasih padamu, semua pekerjaan mama selesai tepat pada waktunya berkat bantuanmu nak…maafkan mama belum bisa membiarkanmu berkumpul bersenang-senang dengan teman-teman seusiamu di luar sana, mama terlalu sayang padamu karena hanya kamu harta yang mama miliki. Winda adalah hal terindah yang mama miliki” tak terasa butiran hangat menetes dari pelupuk mataku begitu saja. Aku menangis, kata-kata yang mama ucapkan seolah menusuk hatiku, bagai ada sebuah perpisahan yang menghadang disana. “Mama punya sesuatu untuk kamu” seraya menunjukan sebuah benda padaku, gamis berwarna ungu tua yang sempat aku idamkan waktu mama menjahitnya, sempat terlintas itu adalah milik orang kaya di benakku. “Ini buat Winda?” tanya aku masih tak percaya. “iya, untuk tuan putri yang mama sayangi, bidadari mama pasti tampak lebih cantik dan anggun mengenakan gamis ini” tatapan mata mama meyakinkanku. Bersorak kegirangan ekspresiku menyambut pembarian dari mama, ku gapai dan ku peluk tubuh mama yang masih dalam posisi semula, berbaring. Ada sesuatu yang aneh kurasakan ketika memeluk mama, tubuhnya bergetar dan dingin. “Mama sakit?” mama kembali tersenyum. “Winda buatkan teh hangat ya, badan mama dingin banget” cepat kuselimuti tubuh lemah mama dengan selimut, tak bisa ku bendung rasa haru di tengah takbir yang berkumandang malam ini. Tangisku kembali mengisak, sambil ku gapai tangan mama kulantunkan kalimat mengiringi takbir yang terdengar “Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, Lailahaillallahu Allahu akbar, Allahu akbar walillahilhamdu.”

Rasa bersalah tiba-tiba saja muncul, bagai anak tak berhati yang bersorak kegirangan ketika mendapatkan baju baru, tak peduli dengan sakit yang mama rasakan saat ini, belum lagi perjuangan mama untuk menyelesaikan gamis ini, dengan kaki yang semakin lemah tetap ia jalankan mesin jahit, jemarinya yang sesekali tertusuk jarum dan berdarah, namun tetap tersenyum kuat, mata yang jarang sekali mendapatkan haknya untuk terpejam walau sekejap. Semua itu bukti cinta dan kasih mama padaku, sedangkan aku? Sekedar membantu sedikit pekerjaan mama saja gerutu di hati tiada henti. ”Astaghfirullahal’adzim,,,”

Dipelukanku mama istirahat malam ini, tak akan aku biarkan rasa dingin menyentuh kulit mama. Mama terpejam seperti menjemput mimpi indah, senyum tetap mengembang di bibirnya. Ku pastikan bahwa mama istirahat dengan sempurna malam ini, istirahat dari lelahnya bekerja selama ini yang tak pernah kenal lelah. Kenal, tapi tak sedikitpun mama hiraukan, hingga akhirnya tubuh lemahnya yang mengalami keterpurukan. “Winda sayang mama” tiada kalimat lain yang mampu terucap dari mulutku.

Fajar menyingsing, suara adzan subuh menggema membangunkanku, pelan kubuka mata di pagi yang dinanti ini, pagi dimana semua dosa akan dihapuskan oleh Allah, tak heran semua bersuka cita menyambutnya. Perlahan ku pindahkan tubuh mama yang masih tetap dingin dari pelukanku, sepertinya begitu pulas tidur mama malam ini. Tak ingin ku usik sedikitpun istirahat mama. Selesai sholat subuh, kugantikan seluruh tugas mama, membersihkan rumah dan menghangatkan semua masakan, akan aku jadikan mama ratu hari ini.

 Mandi dan bersiap-siap berangkat kemasjid untuk sholat ied. Sedih, pagi ini tak ku dengar omelan mama untuk mengingatkanku sarapan seperti Idul Fitri tahun lalu, teriakan mama agar aku tidak terlalu lama bersiap-siap, dan berbagai nasihat mama yang lain. Ku kenakan gamis pemberian mama, ku putar tubuhku di depan cermin, “benar kata mama, aku memang lebih cantik mengenakan gamis ini” bisikku membanggakan diri. Selesai bersiap-siap, aku masih belum berani membangunkan mama, aku tak sampai hati mengganggu istirahat mama. Sejenak ku tengok mama ke kamarnya untuk berpamitan, “Ma, Winda berangkat sholat ied dulu” kataku dari pintu kamar mama, tanpa ku tunggu jawaban dari mama aku langsung berangkat, berat kaki ini melangkah tanpa mama disampingku. Sepanjang jalan hanya ada wajah mama yang tersenyum padaku. Selesai khotib menutup khutbahnya, aku berlari mempercepat langkahku menuju satu-satunya orang yang aku miliki di dunia ini, padanya akan aku persembahkan seluruh kata maafku atas segala kesalahan yang telah aku buat, “Mama, izinkan aku mencium kakimu dan bersujud dihadapanmu” derai air mata tak bisa ku tunda lagi untuk mengalir dengan dersanya disepanjang perjalananku pulang dari masjid. Semakin aku melangkah, jalan ini seakan semakin panjang membentang.

Tiba di rumah, kamar mama menjadi tujuan utamaku, mama masih terbaring dengan tetap mengulum senyum. Ku raih tangan mama, dingin, ku peluk tubuh mama semakin lemah. Aku mulai memberanikan diri untuk membangunkan mama dengan menggoyang-goyangkan tubuhnya, ku panggil terus namanya dengan suara yang semakin parau karena derasnya airmata yang mengalir. “Mama, bangun Ma! Akan kuceritakan padamu semua kejadian yang kualami sejak bangun tidur tadi, pengalamanku mengerjakan semua pekerjaan mama, kesedihanku tanpa mendengar nasihat-nasihat mama pagi tadi, sampai perjalananku sholat ied sendirian tanpa mama disisiku. Mama bangunlah, maka mama akan tersenyum menyaksikan betapa rajinya aku pagi ini, betapa cantiknya aku mengenakan gamis yang kau buatkan khusus untuku. Semua hal yang tak pernah kau lihat dari diriku, semua yang kau dambakan ada padaku hari ini aku wujudkan untukmu mama…Banguuunnn!” Satu hal yang aku tau dari kehidupan ini, segala sesuatu yang bernafas pasti akan mati. Tapi ada hal yang aku tak bisa mengerti, Kau ciptakan aku lalu kemudian satu persatu Kau pisahkan aku dari orang-orang yang aku cintai. Airmataku semakin kering dan tak mengalir lagi, suaraku semakin hilang, sampai akhirnya dunia ini menjadi gelap dimataku.Wallahu a’lambishowab…….